sangat mempengaruhi jalan hidupnya. Uzia menjadi raja menggantikan ayahnya,
Amazia, pada usia 16 tahun. Firman Tuhan berkata bahwa Uzia melakukan apa
yang benar di mata Tuhan tepat seperti yang dilakukan ayahnya (ayat 4).
Sebelumnya, ayah Uzia, Amazia, juga melakukan apa yang benar di mata Tuhan,
hanya tidak dengan segenap hati (2 Tawarikh 25:2),sehingga ahkirnya ia mati
di bunuh karena menjahui TUHAN (2 Tawarikh 25:27). Firman Tuhan juga
mencatat bahwa saat Uzia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya
berhasil (ayat 5b). Tetapi saat ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia
melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN,......(ayat 16),
dan akhirnya ia sakit kusta dan meninggal (ayat 21).
Dari kisah ini kita belajar begitu pentingnya 'saat menabur' kita lakukandengan setia. Khususnya pada hal-hal yang bernilai kekal. Di saat susah atau
senang cara hidup beribadah tidak boleh hilang dalam keluarga. Anak-anak
akan belajar bagaimana hidup setia kepada Yesus saat kita sedang susah
maupun senang, selalu mencari Tuhan bukan saat hidup kita berhasil saja,
melainkan saat situasi dan kondisi tidak mendukung sekalipun.
Teladan hidup dengan selalu mencari Tuhan baik dalam susah ataupun
senang adalah seperti seseorang yang sedang berinvestasi. Investasi untuk
masa depan yang pasti membuat kita dapat menikmati masa tua dengan tenang,
karena melihat anak-anak berhasil oleh karena mereka setia mencari Tuhan
baik dalam susah maupun senang.



0 komentar:
Posting Komentar